Abdul Latif Divonis 6 Tahun Penjara

oleh
MENCEGAH DAN MENINDAK - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mencegah dan menangkap pelaku yang diduga melakukan korupsi. Tak terkecuali pada kasus yang didakwakan kepada Bupati (nonaktif) HST Abdul Latif, kemudian dinyatakan terbukti, KPK melalukan tindakan.(foto : net/ilus)

BANJARMASIN, Wartaberita.id – Bupati (nonaktif) Hulu Sungai Tengah (HST), Abdul Latif, akhirnya divonis enam tahun penjara dan denda Rp330 juta subsider tiga bulan kurungan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (20/9). Latif dinyatakan terbukti menerima suap Rp3,6 miliar dari Direktur Menara Agung Pusaka, Donny Witono.

Dilansir dari Antara, vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim itu lebih rendah dari tuntutan JPU, yakni delapan tahun penjara dan denda Rp600 juta subsider enam bulan kurungan.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Abdul Latif telah terbukti secara sah dan meyakinkan secara hukum bersalah melakukan korupsi secara berlanjut seusai dakwaan primer. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Abdul Latif selama 6 tahun ditambah denda Rp300 juta subsider 3 bulan kurungan,” kata Ketua Majelis Hakim Ni Made Sudani dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (20/9 seperti yang dikutip dan diberitakan Antara.

Selain itu, hakim juga menyetujui tuntutan JPU untuk meminta pencabutan hak diplih dalam jabatan publik selama tiga tahun terhitung sejak selesai menjalani pidana pokok.

Putusan hukum lainnya dalam sidang tersebut adalah memenuhi tuntutan perampasan uang yang telah diterima Latif dari Donny Witono yaitu uang sebesar Rp1,8 miliar, uang lain yang dikembalkan ke negara melalui KPK senilai Rp293 juta. Total uang dirampas negara sebesar Rp2,093 miliar.

Atas putusan vonis itu, Latif menegaskan banding. Sedangkan JPU KPK menyatakan pikir-pikir.

Perkara ini berawal dari Abdul Latif bersama Ketua Kadin Kabupaten HST Fauzan Rifani dan Direktur PT Sugriwa Agung Abdul Basit dituduh menerima hadiah sebesar Rp3,6 miliar dari Donny Witono. Uang itu diberikan karena Latif dianggap mengupayakan PT Menara Agung Pusaka memenangkan lelang dan mendapat pekerjaan proyek pekerjaan pembangunan ruang perawatan di RSUD Damanhuri Barabai tahun anggaran 2017.

Penulis : Yusni/Antara
Penanggung Jawab : Yusni Hardi

 

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan